
Estonia Rencanakan 150 Bunker di Perbatasan Rusia
12 menit yang lalu
Dedy menilai pengenalan AI kepada siswa SD perlu ditinjau dan disertai pendampingan serta literasi.
Terbit · 1 min read

Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Dedy Permadi, mengingatkan risiko memperkenalkan kecerdasan buatan (AI) secara langsung kepada siswa sekolah dasar. Menurut laporan CNNIndonesia.com, ia menilai anak-anak belum cukup mampu memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan teknologi tersebut.
Dedy menyampaikan pandangan itu dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Ia menyoroti penggunaan aplikasi seperti ChatGPT, Copilot, dan Gemini tanpa pendampingan serta bekal literasi yang memadai.
Menurut Dedy, model bahasa besar dapat menghasilkan informasi keliru atau halusinasi. Ia menilai hasil AI perlu diperiksa manusia, sementara anak-anak belum memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya.
Dedy membedakan pemanfaatan AI untuk mendukung pendidikan dari pengajaran AI kepada siswa. Pemanfaatan AI untuk pendidikan, misalnya, dapat membantu siswa penyandang disabilitas memahami materi dan menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan masing-masing.
Menurutnya, teknologi untuk pembelajaran personal juga dapat membantu guru mengatasi keterbatasan kapasitas dan keterampilan dalam menyesuaikan metode belajar. Namun, ia meminta rencana mengajarkan AI kepada siswa ditinjau sebelum diterapkan langsung kepada anak-anak.
Dedy mengatakan pemerintah Indonesia pada 2024 sempat memperkenalkan rencana memasukkan pembelajaran AI ke kurikulum generasi muda, termasuk siswa SD. Ia juga mengaitkan penggunaan AI dan paparan layar berlebihan dengan kekhawatiran terhadap kemampuan kognitif anak.
Sebagai perbandingan, Dedy menceritakan pengamatannya saat mengunjungi Jepang setahun setelah inisiatif pengenalan AI di Indonesia. Menurut dia, AI baru diperkenalkan kepada siswa SMA dengan panduan guru, perangkat sekolah, dan akses yang dibatasi pada kanal tertentu.
Dedy menyebut Jepang juga memiliki kelas dan kurikulum khusus bagi siswa berbakat di bidang AI. Ia menilai penggunaan AI harus tetap berada dalam kendali manusia, termasuk dalam pengawasan hasil dan keputusan, serta tanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.