
Empat Skenario Politik Israel usai Pemilu Buntu
8 menit yang lalu
Laporan Hiya mencatat tingginya panggilan spam di Indonesia dan penggunaan audio buatan kecerdasan buatan dalam sebagian sampel.
Terbit · 1 min read

Indonesia mencatat persentase tertinggi panggilan spam di Asia Pasifik, yakni 89 persen dari panggilan yang berasal dari nomor tak dikenal. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip laporan Hiya, data itu tercantum dalam Global Call Threat Report Q1 2025.
Laporan tersebut menganalisis tren panggilan tidak diinginkan di lebih dari 40 negara selama kuartal I 2025. Hiya menghitung persentase berdasarkan lalu lintas panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan dalam daftar kontak pengguna.
Setelah Indonesia, Hong Kong mencatat 70 persen panggilan spam dari nomor tak dikenal, disusul Filipina 55 persen. Singapura tercatat 34 persen, Malaysia 31 persen, dan Australia 30 persen.
Hiya mendefinisikan panggilan spam sebagai panggilan tidak diinginkan, termasuk panggilan penipuan dan panggilan yang mengganggu, seperti pemasaran melalui telepon tanpa izin.
Menurut laporan yang sama, warga Indonesia rata-rata menerima 16 panggilan spam per orang setiap bulan, tertinggi kedua di Asia Pasifik. Hong Kong berada di urutan pertama dengan rata-rata 21 panggilan per bulan.
Secara global, Hiya menandai sedikitnya 12,5 miliar panggilan sebagai dugaan spam pada kuartal I 2025, naik dari 11,3 miliar pada kuartal IV 2024. Laporan itu menyebut rata-rata 137 juta panggilan spam terjadi setiap hari.
Dari sampel global yang dianalisis, 24 persen dikategorikan sebagai panggilan mengganggu, 9 persen sebagai penipuan, dan 67 persen sebagai kategori panggilan lainnya.
Hiya juga menganalisis 8.455 sampel panggilan terekam dan menemukan 25 persen di antaranya menggunakan audio buatan kecerdasan buatan. Dari panggilan berbasis teknologi tersebut yang ditelaah lebih lanjut, 55 persen dikonfirmasi sebagai skenario penipuan. Laporan menyebut pelaku dapat menggunakan teknologi itu untuk meniru suara dan menyusun percakapan persuasif.