
Paus Leo Serukan Penghentian Permusuhan di Yaman
12 menit yang lalu
Purnama ini punya nama berakar pada tradisi, tanpa perbedaan fisik dari purnama biasa.
Terbit · 1 min read

Fenomena Hunter Moon atau Bulan Pemburu diperkirakan terlihat pada Senin (26/10/2026). Menurut laporan CNN Indonesia, BMKG menjelaskan istilah ini merujuk pada purnama yang muncul setelah Harvest Moon, biasanya pada Oktober.
Di Jakarta, Bulan diperkirakan terbit dari arah timur pukul 17.53 WIB, mencapai posisi tertinggi pukul 23.58 WIB, lalu terbenam pada Selasa pagi pukul 05.10 WIB. CNN Indonesia mengutip keterangan Ayu yang menyebut waktu pengamatan terbaik mulai pukul 20.00 WIB.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan Hunter Moon tidak berbeda secara fisik dari purnama biasa. “Fenomena Hunter's Moon tidak memiliki perbedaan fisik dengan bulan purnama biasa, tetapi memiliki latar belakang budaya dan karakteristik unik,” ujar Teguh dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Nama Hunter Moon disebut berasal dari tradisi kalender masyarakat Algonquian dan pemukim awal Eropa. Jika Harvest Moon menandai masa panen, Bulan Pemburu dikaitkan dengan waktu berburu dan mengumpulkan persediaan daging sebelum musim dingin.
Ladang yang selesai dipanen disebut menarik hewan seperti rusa dan rubah untuk mencari sisa hasil panen. Cahaya purnama juga membantu pemburu melacak hewan pada masa itu.
Menurut laporan CNN Indonesia, Hunter Moon dapat sulit terlihat di Jakarta saat baru terbit karena posisinya dekat garis horizon dan terhalang gedung tinggi. Ayu menyatakan fenomena tersebut aman diamati dengan mata tanpa pelindung khusus.
BMKG mengingatkan purnama berpotensi memicu kenaikan permukaan air laut. Posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang segaris menghasilkan gaya gravitasi gabungan, sehingga pasang dapat lebih tinggi dan surut lebih rendah dari biasanya; masyarakat pesisir diimbau waspada.