
Imigrasi Amankan 21 WNA di Bali
11 menit yang lalu
Kebakaran hutan menjadi tantangan target iklim dan berpotensi berdampak pada ekosistem, ekonomi, serta kesehatan.
Terbit · 2 min read

Ilmuwan European Forest Institute Krystof Obidzinski menilai kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu tantangan Indonesia dalam mencapai target iklim. Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip laman resmi BRIN, Krystof menyampaikan penilaian itu.
Tantangan tersebut mencakup pencapaian target FOLU Net Sink 2030 dan pengembangan pemanfaatan hutan untuk berbagai kepentingan. FOLU Net Sink 2030 merupakan target yang ingin dicapai melalui aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan lahan, dengan sasaran tingkat serapan lebih tinggi daripada tingkat emisi pada 2030.
Krystof mengatakan kebakaran tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga dapat berdampak pada produksi, ketenagakerjaan, perdagangan, kepercayaan, serta dukungan lembaga keuangan. Ia menilai penanganannya memerlukan kesiapsiagaan berkelanjutan, pembagian tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah, serta anggaran yang memadai untuk pencegahan dan penanggulangan.
Target FOLU Net Sink 2030 diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021. Program tersebut memiliki empat strategi utama, yaitu menghindari deforestasi, konservasi dan pengelolaan hutan lestari, perlindungan dan restorasi lahan gambut, serta peningkatan serapan karbon.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 168 Tahun 2022 mencantumkan lima bidang dalam tim FOLU Net Sink 2030, yaitu Pengelolaan Hutan Lestari, Peningkatan Cadangan Karbon, Konservasi, Pengelolaan Ekosistem Gambut, serta Instrumen dan Informasi. Program itu juga mencakup 15 kegiatan mitigasi, termasuk pengurangan laju deforestasi lahan mineral, restorasi gambut dan perbaikan tata air gambut, konservasi keanekaragaman hayati, rehabilitasi mangrove, serta aforestasi di kawasan bekas tambang.
Peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN Marcellinus Budi Utomo menjelaskan bahwa kebakaran juga dapat menurunkan kualitas udara dan mengancam kesehatan masyarakat. Ia mengkaji dampak tersebut di Kalimantan dengan menggabungkan data satelit, pemodelan atmosfer, dan analisis kuantitatif.
Menurut laporan yang sama, kajian Marcellinus mempertimbangkan aktivitas kebakaran yang diamati melalui satelit, perkiraan konsentrasi partikulat halus PM2.5, distribusi penduduk, serta data mortalitas dasar. Asap dan partikulat dapat menyebar ke wilayah lain, sehingga dampaknya tidak terbatas pada kawasan yang terbakar.
Marcellinus menjelaskan bahwa kajian berbasis pemodelan memiliki batasan metodologis dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan seluruh penderitaan masyarakat atau membuktikan bahwa setiap kematian disebabkan kebakaran hutan. Hasil pemodelan itu tidak dapat disamakan dengan angka kematian aktual yang seluruhnya telah terverifikasi akibat kebakaran.
Informasi mengenai potensi dampak kesehatan masyarakat dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk memperkuat pemantauan kualitas udara, peringatan dini, perlindungan kelompok rentan, dan kesiapan pelayanan kesehatan saat kebakaran terjadi.