
Manado Post Sajikan Bacaan Katolik 26 Oktober
15 menit yang lalu
Senyuman disebut dapat memengaruhi emosi dan respons stres, tetapi senyum yang dipaksakan bisa membuat tidak nyaman.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, mengubah ekspresi wajah dengan mengangkat sudut bibir dari cemberut menjadi senyuman dapat memengaruhi emosi seseorang, tidak hanya meningkatkan suasana hati.
ANTARA mengutip New York Post yang melaporkan pada Minggu (25/10/2026) bahwa senyuman dipandang dapat meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, dan memperbaiki kesejahteraan emosional.
Neuropsikolog klinis dan forensik di Los Angeles yang juga mengajar di Pepperdine University, Dr. Judy Ho, menyebut senyuman sebagai salah satu strategi yang ia sampaikan kepada sejumlah pasien dengan depresi atau kecemasan. Ho menegaskan senyuman bukan satu-satunya cara memperbaiki keadaan, melainkan salah satu tambahan dalam perangkat strategi menghadapi situasi sulit.
Menurut Ho, tersenyum dapat memengaruhi kadar kortisol, yakni hormon yang dilepaskan tubuh, antara lain untuk membantu mengatur stres dan suasana hati. Tersenyum juga dapat memengaruhi zat kimia di otak yang berkaitan dengan perasaan positif, termasuk endorfin, dopamin, dan serotonin.
Ho menyebut orang yang tersenyum saat mengerjakan tugas pemicu stres umumnya menunjukkan detak jantung lebih rendah pada masa pemulihan dibandingkan mereka yang mempertahankan ekspresi wajah netral. Tersenyum juga mengurangi sebagian aspek respons stres fisiologis tubuh. Ia berharap, jika seseorang cukup sering tersenyum, dampak positif secara emosional akan mulai terasa, yang menurutnya dalam beberapa hal seperti efek mediasi.
Namun, memaksakan senyuman justru bisa memicu ketidaknyamanan. Bagi sebagian orang, tuntutan untuk tersenyum menjadi situasi serba salah karena mereka berisiko dianggap tidak ramah atau bersikap dingin jika kurang sering tersenyum.
Asisten profesor yang memimpin Social Science Collaboratory di Universitas Florida, Gainesville, Nicholas Coles, mengatakan orang tidak menyukai perasaan kehilangan kendali atas emosi sendiri. Menurut dia, senyuman yang terasa autentik dan dilakukan atas kemauan sendiri diperkirakan akan memiliki efek nyata.
Menjelang musim liburan, orang mungkin berusaha tersenyum saat berkumpul dengan keluarga, terutama ketika topik sensitif seperti politik dan agama mulai dibicarakan. Menurut laporan yang sama, situasi itu dapat menjadi kesempatan untuk melihat apakah tersenyum membantu meredakan ketegangan.
Ho menyarankan agar seseorang tersenyum sambil mengingatkan diri bahwa lawan bicaranya adalah orang yang selama ini peduli dan menyayanginya. Menurut dia, cara itu mungkin dapat mengubah cara merespons mereka, bahkan saat terlibat dalam percakapan yang sulit.