
Prabowo Resmikan Kampus Taruna Nusantara Cimahi
11 menit yang lalu
Pencairan es membuat bagian padat Bumi semakin bulat, sementara gabungan Bumi dan lautan semakin pipih.
Terbit · 2 min read

Sebuah studi menemukan perubahan iklim akibat aktivitas manusia turut mengubah bentuk bagian padat Bumi, yang perlahan menjadi semakin bulat. Menurut laporan CNN Indonesia, perubahan ini terutama berkaitan dengan pergeseran massa akibat pencairan lapisan es di kutub.
Temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal JGR Solid Earth pada 9 September 2026. Studi mengamati perubahan bentuk Bumi dari waktu ke waktu melalui pengukuran sistem navigasi satelit global di wilayah kutub dan lautan terpencil.
Mengutip Live Science, pengukuran sistem navigasi satelit global memiliki keterbatasan karena jumlah stasiun di dekat kedua kutub dan di lautan terpencil masih sedikit. Chistofros Kotsakis, profesor geodesi di Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, mengembangkan metode untuk menganalisis data pengukuran itu agar perubahan permukaan Bumi dapat dipantau lebih baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan permukaan wilayah kutub dan pengurangan penggembungan di sekitar khatulistiwa masing-masing tercatat sekitar 0,04 inci atau 1 milimeter per tahun selama periode 2011 hingga 2015.
Laju tersebut lebih besar daripada pada periode 1997 hingga 2000, ketika bagian padat Bumi menjadi lebih bulat sekitar 0,02 inci atau 0,5 milimeter per tahun. Laporan itu menyebut laju pembulatan pada setiap dekade meningkat sekitar 0,016 inci atau 0,4 milimeter per tahun.
Pencairan es mengurangi tekanan pada kerak Bumi sehingga permukaan di wilayah kutub perlahan naik. Sebaliknya, peningkatan massa di kawasan khatulistiwa menekan kerak dan mengurangi penggembungan di sana.
Namun, jika lautan turut dihitung, Bumi secara keseluruhan justru semakin pipih dengan laju sekitar 0,03 inci atau 0,8 milimeter per tahun. Perpindahan massa air dari kutub membuat lautan semakin menggembung di sekitar khatulistiwa, dan pengaruhnya lebih besar daripada pembulatan pada bagian padat Bumi.
Penelitian lain yang disebut dalam laporan tersebut menunjukkan perubahan-perubahan itu turut memperlambat rotasi Bumi. Kotsakis menemukan hasil pengukuran sistem navigasi satelit global dan medan gravitasi tidak sepenuhnya sesuai, sehingga perubahan bentuk Bumi dan medan gravitasinya tidak selalu seiring; kedua metode dapat digunakan bersama untuk memantau dampak perubahan iklim, termasuk pencairan es di Greenland dan Antarktika serta perubahan pergerakan air laut.