
Harga Batu Bara Turun ke US$150,35 per Ton
15 menit yang lalu
Pembangunan ditargetkan rampung pertengahan November, tetapi kesiapan operasi dan konektivitas saluran masih menjadi perhatian.
Terbit · 2 min read

Pemerintah Kota Surabaya menyatakan pembangunan rumah pompa dan infrastruktur pendukung pengendalian banjir telah mencapai 90 persen pada akhir Oktober 2026. Menurut laporan ANTARA, pekerjaan itu ditargetkan rampung pada pertengahan November, sebelum curah hujan meningkat pada Desember.
Pembangunan berlangsung di sejumlah kawasan rawan genangan, antara lain Tanjungsari, Simokalangan, Simorejo, Margorejo, Nginden Jangkungan, dan Rungkut, Kota Surabaya, Jawa Timur. Pemerintah kota merencanakan penambahan delapan rumah pompa pada 2026 dan mengerjakan lebih dari 100 proyek drainase di wilayah selatan, timur, dan barat.
Laporan yang sama menyebut penyambungan pipa menuju sungai masih termasuk pekerjaan yang harus diselesaikan. Progres fisik 90 persen belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh sistem siap beroperasi saat hujan.
Kesiapan itu bergantung pada tersambungnya saluran, pengujian pompa, kesiapan operator, serta pemeliharaan. Laporan ANTARA juga menyebut biaya listrik pernah menjadi salah satu kendala pengoperasian rumah pompa di Surabaya.
Pengalaman hujan deras pada 22–23 Juni 2026 memperlihatkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi genangan. Menurut laporan yang sama, beberapa saluran ditutup sementara selama pekerjaan normalisasi dan pembangunan, sementara pasang laut menghambat aliran sungai menuju laut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pompa perlu bekerja bersama saluran, tampungan, dan pintu air. Ketika permukaan air sungai atau laut lebih tinggi, pembuangan air dari daratan dapat terhambat; tampungan sementara dapat menahan air ketika saluran hilir belum mampu menerimanya.
Pada April 2026, Pemkot Surabaya menyebut lebar sungai di kawasan Kalianak yang semula sekitar 30 meter menyempit hingga 50 sentimeter akibat permukiman padat. Laporan ANTARA menyatakan penyempitan saluran dan berkurangnya ruang air menjadi persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan penambahan pompa saja.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 mundur di sebagian besar wilayah Indonesia, sedangkan puncak musim hujan nasional diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Laporan ANTARA menekankan pentingnya menilai hasil proyek melalui uji fungsi serta data tinggi dan lama genangan setelah hujan, selain capaian konstruksi.