
Tito Karnavian Raih Penghargaan Tata Kelola Daerah
21 menit yang lalu
Inflasi Aceh mencapai 5,05 persen pada Oktober 2026, sementara BI menyoroti gangguan distribusi dan harga pangan.
Terbit · 1 min read

Bank Indonesia menyebut banjir dan longsor pada akhir 2025 masih menekan harga sejumlah komoditas dan mendorong inflasi di Aceh. Menurut laporan CNBC Indonesia, cabai dan makanan jadi, terutama nasi dengan lauk, menjadi sumber tekanan harga.
Data Oktober 2026 mencatat inflasi tahunan Aceh sebesar 5,05 persen, tertinggi di Pulau Sumatera, tetapi bukan lagi yang tertinggi secara nasional. Inflasi bulanan tercatat 0,13 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Agus Chusaini mengatakan bencana merusak jalur distribusi dan lahan produksi. Kondisi itu menjadi tantangan dalam menjaga inflasi tetap dalam sasaran. Agus menyampaikan keterangan dalam FGD BI dengan awak media di Sabang, Aceh, yang dikutip pada Sabtu (7/11/2026).
Agus mengatakan perbaikan jalan dan jembatan telah dilakukan, tetapi sebagian jembatan masih bersifat sementara dan berkapasitas lebih kecil. Sejumlah jalan juga belum kembali seperti sebelum bencana, sehingga distribusi masih terpengaruh.
Menurut Agus, nasi dengan lauk secara konsisten menyumbang inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan, dan harganya cenderung sulit turun setelah naik. Cabai juga dapat memicu gejolak karena harga konsumen rendah saat pasokan melimpah, tetapi dapat meningkat tajam ketika ketersediaannya berkurang.
Untuk menjaga kestabilan harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah memperkuat koordinasi dan menjalankan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera. Program itu mencakup peningkatan produktivitas pertanian, penguatan pascapanen dan kelembagaan petani, serta dukungan bagi penyerap hasil produksi.
Strategi lainnya meliputi kerja sama antardaerah, fasilitasi distribusi pangan, operasi pasar dan pasar murah, serta penguatan neraca pangan melalui integrasi dan digitalisasi data. Koordinasi antarpemangku kepentingan juga menjadi bagian dari program tersebut.
Di tengah tekanan inflasi, Agus memperkirakan pertumbuhan ekonomi Aceh pada kuartal ketiga 2026 melambat dibandingkan periode sebelumnya, tetapi tidak terlalu dalam. Ekonomi Aceh tumbuh 4,86 persen pada kuartal II-2026, naik dari 4,09 persen pada kuartal I; perdagangan, konstruksi, dan pertanian menjadi penopang, dengan sektor pertanian berkontribusi 1,05 persen terhadap pertumbuhan.