
Asing Catat Beli Bersih Rp268,67 Miliar
14 menit yang lalu
Dradjad mendasarkan proyeksinya pada indikator industri, konsumsi, perjalanan, dan belanja pemerintah.
Terbit · 2 min read

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2026 lebih tinggi daripada pertumbuhan semester I-2026. Menurut laporan CNBC Indonesia, ia menyampaikan keyakinan itu di Jakarta pada Rabu (4/11/2026).
Dradjad menyebut pertumbuhan ekonomi semester I-2026 sebesar 5,45 persen, terdiri atas pertumbuhan tahunan 5,61 persen pada kuartal I dan 5,29 persen pada kuartal II. Badan Pusat Statistik dijadwalkan mengumumkan realisasi pertumbuhan kuartal ketiga pada 5 November 2026.
Menurut laporan yang sama, Dradjad mendasarkan proyeksinya pada delapan data dan catatan. Salah satunya, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia tercatat 52,28 pada kuartal ketiga, di atas ambang 50 yang menandai zona ekspansi.
Indeks Kepercayaan Industri tercatat 51,93 pada September 2026. Dradjad juga menyebut kenaikan impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal untuk industri, serta kenaikan kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi pada Juli-Agustus secara tahunan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan penjualan mobil dari pabrik ke diler tumbuh 31,25 persen dan penjualan ritel naik 25,36 persen secara tahunan pada kuartal ketiga. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia mencatat penjualan sepeda motor tumbuh 8,92 persen pada periode yang sama.
Dradjad turut menyebut informasi PT PLN (Persero) mengenai kenaikan penjualan listrik pada kuartal ketiga, seiring peningkatan konsumsi rumah tangga, bisnis, dan industri. Menurutnya, liburan sekolah dan tahun ajaran baru juga mendorong perjalanan wisatawan nusantara serta perjalanan darat, laut, dan udara.
BPS mencatat 1,43 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada September 2026, naik 2,31 persen secara tahunan. Pada bulan yang sama, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 96,69 juta, naik 2,47 persen, sedangkan perjalanan wisatawan nasional tercatat 600,61 ribu, turun 13,69 persen.
Indikator kedelapan yang disebut Dradjad adalah pertumbuhan belanja pemerintah untuk konstruksi sebesar 63,65 persen secara tahunan, ditambah belanja program prioritas dan stimulus. Ia mengakui sejumlah usaha, seperti ritel di pusat perbelanjaan besar, pertumbuhannya tidak sesuai harapan.
Dradjad menilai kondisi itu tidak serta-merta menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Ia mengaitkannya dengan perubahan pola konsumsi akibat disrupsi teknologi, termasuk pergeseran belanja ke kanal daring, waralaba ritel, dan ritel rakyat, serta mengatakan pelaku usaha perlu beradaptasi.