
Kemenag Usulkan Fasilitas Khusus Ma’had Aly
19 menit yang lalu
Kerja sama cadangan minyak darurat dinilai dapat menekan biaya, sementara transisi hijau dan digitalisasi menjadi tantangan industri ASEAN.
Terbit · 2 min read

Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) mendorong kerja sama regional untuk memperkuat ketahanan energi dan daya saing industri ASEAN. Menurut laporan ANTARA, usulan itu dibahas dalam Forum Media Asia Timur ke-2 di Jakarta.
Chief Operating Officer ERIA Takayuki Yamanaka menyampaikan hal tersebut di Jakarta pada Jumat (6/11/2026). Forum itu mempertemukan peneliti dan jurnalis dari sejumlah negara ASEAN.
Yamanaka mengatakan gangguan pasokan energi global menunjukkan pentingnya kesiapan dan kerja sama antarnegara. Menurutnya, ketahanan energi perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan hijau dan transformasi digital.
Salah satu peluang yang dibahas ialah penyediaan cadangan minyak darurat secara regional. ERIA memperkirakan kerja sama negara-negara ASEAN dapat menekan biaya penyediaan dan penyimpanan cadangan tambahan menjadi 2,19 miliar dolar AS atau sekitar Rp39 triliun lebih per tahun.
Sebagai perbandingan, biaya untuk jumlah cadangan tambahan yang sama diperkirakan mencapai 2,80 miliar dolar AS atau lebih dari Rp50 triliun per tahun jika setiap negara mengandalkan cadangan nasional. Skema regional berpotensi menghemat sekitar 22 persen, setara 610 juta dolar AS atau lebih dari Rp10 triliun per tahun.
Perhitungan itu mengasumsikan cadangan bersama tetap dimiliki produsen atau mitra, sementara negara peserta mendapat hak penggunaan berdasarkan kesepakatan. Biaya pengiriman darurat dan pengisian kembali dihitung terpisah; skema tersebut masih berupa rekomendasi ERIA yang memerlukan pertimbangan dan persetujuan pemerintah terkait.
Ekonom Energi Senior ERIA Han Phoumin mengatakan hak menggunakan cadangan darurat baru merupakan langkah awal. Negara perlu menyiapkan prosedur pengeluaran cadangan, bahan bakar yang sesuai, serta sarana pengiriman; uji coba sukarela dapat digunakan pemerintah dan operator untuk menguji kesiapan sebelum pasokan terganggu.
Senior Policy Fellow ERIA Intan Murnira Ramli menyoroti tantangan daya saing industri di tengah transisi hijau dan pemanfaatan teknologi digital. Survei ERIA terhadap perusahaan Jepang di ASEAN mencatat 53,3 persen telah mengambil langkah mengurangi emisi karbon, tetapi hanya 7,1 persen melaporkan beralih ke pemasok beremisi lebih rendah atau mendorong pemasok mengurangi emisi.
Survei terpisah terhadap perusahaan lokal ASEAN menunjukkan usaha kecil lebih jarang mengambil langkah serupa dibandingkan perusahaan besar, terutama karena keterbatasan pendanaan dan kemampuan teknis. Di antara perusahaan Jepang yang disurvei, 70,8 persen menyebut kekurangan tenaga kerja dengan keterampilan digital sebagai hambatan dan 64,7 persen menyoroti tingginya biaya penerapan teknologi.
Temuan survei menunjukkan perlunya investasi dalam pengembangan keterampilan dan teknologi serta perluasan akses pembiayaan agar lebih banyak pelaku usaha dapat beradaptasi. Peserta forum juga membahas penyelarasan standar dan penguatan konektivitas antarnegara; salah satu peluang yang dibicarakan ialah Perjanjian Kerangka Ekonomi Hijau ASEAN (GEFA), yang diharapkan mendorong investasi dan membuka peluang usaha di sektor ekonomi hijau.