
Affandi Apresiasi Respons Kapolri soal Sukoharjo
16 menit yang lalu
Harga batu bara melemah dua hari beruntun di tengah penurunan harga minyak dan terbatasnya permintaan India.
Terbit · 1 min read

Harga batu bara turun 2,5% menjadi US$ 147,5 per ton pada penutupan perdagangan 4 November 2026. Menurut laporan CNBC Indonesia yang merujuk Refinitiv, pelemahan itu terjadi di tengah turunnya harga minyak dan terbatasnya permintaan dari India.
Harga penutupan tersebut disebut sebagai yang terendah sejak 30 September 2026. Penurunan itu juga memperpanjang pelemahan batu bara selama dua hari berturut-turut.
Laporan yang sama menyebut batu bara telah bergerak di kisaran US$ 150 per ton selama sebulan terakhir dan kembali berada di level US$ 140. Batu bara dan minyak merupakan komoditas substitusi sehingga pergerakan harganya dapat saling memengaruhi.
Di China, harga batu bara termal di pelabuhan utara bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan menguat. Berkurangnya pasokan batu bara murah serta terbatasnya ketersediaan batu bara rendah sulfur mendorong penjual mempertahankan harga penawaran.
Namun, permintaan pembangkit listrik yang belum merata dan upaya pemerintah China menjaga kecukupan pasokan membatasi peluang kenaikan harga yang signifikan. Sejumlah pelaku pasar memperkirakan harga dapat pulih tipis pada paruh kedua November.
Pemulihan pasokan dari tambang domestik dan sikap hati-hati pembeli dinilai dapat menahan harga agar tidak kembali ke level tertinggi sebelumnya. Perkiraan tersebut merupakan pandangan pelaku pasar yang dikutip dalam laporan CNBC Indonesia.
Di India, impor batu bara pada Agustus 2026 turun 5,83% secara tahunan menjadi 104 juta ton, dari 111 juta ton pada Agustus 2025. Pemerintah India mengaitkan penurunan itu dengan peningkatan produksi domestik dan penguatan rantai pasok dalam negeri.
Impor batu bara untuk pembangkit listrik turun 6% menjadi 21 juta ton, sedangkan impor untuk kebutuhan pencampuran merosot 35% menjadi 3 juta ton. Impor batu bara kokas turun 4% menjadi 27 juta ton, sementara porsi batu bara impor dalam konsumsi nasional menyusut dari 21% menjadi 19%.