
Otomatisasi dan Digitalisasi Diproyeksikan Ciptakan 170 Juta Pekerjaan
12 menit yang lalu
Adik Dwi Putranto menyoroti pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, dan hilirisasi riset di Jawa Timur.
Terbit · 1 min read

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyoroti kualitas pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan hilirisasi riset sebagai tantangan utama perekonomian daerah. Menurut laporan ANTARA, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyampaikan hal itu dalam diskusi ekonomi di Surabaya.
Adik berbicara dalam diskusi kelompok terarah bertajuk Refleksi 81 Tahun dan Outlook Ekonomi Jatim 2026 yang digelar Jurnalis Ekonomi-Bisnis Surabaya (JEBS) di Surabaya Jumat (30/10/2026).
Dalam forum tersebut, Adik menyebut ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,33 persen pada 2025. Ia menyampaikan pertumbuhan ekonomi secara tahunan mencapai 5,96 persen pada triwulan I 2026 dan 5,72 persen pada triwulan II 2026.
Adik mengatakan pertumbuhan perlu diikuti peningkatan kualitas lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan juga perlu menciptakan nilai tambah, memperkuat daya saing perdagangan, serta mendukung ketersediaan energi yang andal bagi industri.
Adik menyebut tingkat kemiskinan Jawa Timur mencapai 9,06 persen pada Maret 2026, sedangkan tingkat pengangguran terbuka tercatat 3,42 persen pada Mei 2026. Menurut Adik, data tersebut menunjukkan perlunya pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi.
Adik juga menyoroti pengangguran terdidik yang ia kaitkan dengan belum optimalnya kesesuaian kompetensi lulusan perguruan tinggi dan sekolah vokasi dengan kebutuhan industri. Ia menilai kolaborasi dunia usaha, akademisi, dan pemerintah perlu diperkuat untuk mempererat hubungan pendidikan dengan industri, menarik investasi, dan memperluas kesempatan kerja bagi lulusan.
Kadin Jatim turut menilai pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi oleh industri masih terbatas. Adik mendorong kolaborasi dunia usaha, perguruan tinggi, dan pemerintah untuk mengembangkan inovasi menjadi produk bernilai tambah.
Dalam forum yang sama, Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga Rudi Purwono menekankan optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus untuk mendorong investasi manufaktur, lapangan kerja, dan nilai tambah industri. Ia menilai investasi perlu melibatkan industri menengah, industri kecil, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Jawa Timur dalam rantai pasok agar manfaat pertumbuhan menjangkau lebih banyak pelaku usaha.