
Pemangku Kepentingan Bahas Kedaulatan Digital
14 menit yang lalu
Permata Bank memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar dan cadangan devisa turun pada 2026.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, ekonom Permata Bank Faisal Rachman memperingatkan pelebaran defisit transaksi berjalan dapat menambah tekanan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian global. Ia menjabat Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Permata Bank.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/11/2026), Faisal menyebut ketidakpastian mencakup ketegangan geopolitik, sikap kebijakan moneter ketat Federal Reserve, serta potensi perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI. Berbagai risiko itu diperkirakan berlangsung setidaknya hingga semester I 2027.
Tim ekonom Permata Bank memperkirakan defisit transaksi berjalan mencapai 2,49 persen terhadap PDB pada 2026, dibandingkan 0,09 persen terhadap PDB pada 2025. Untuk 2027, defisit diproyeksikan tetap di kisaran 2,49 persen terhadap PDB.
Faisal mengatakan pelebaran defisit yang disertai potensi perubahan arus investasi portofolio menjadi arus keluar bersih dapat menekan cadangan devisa. Menurut dia, faktor-faktor itu dapat memperkuat kecenderungan investor menghindari risiko dan memicu arus modal keluar lebih lanjut.
Tim ekonom itu memperkirakan cadangan devisa turun menjadi 143-147 miliar dolar AS pada akhir 2026, dari 156,47 miliar dolar AS pada akhir 2025. Untuk 2027, cadangan devisa diproyeksikan berada pada kisaran 141-145 miliar dolar AS.
Badan Pusat Statistik merilis data yang mencatat surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Secara kumulatif, surplus Januari-September 2026 mencapai 10,61 miliar dolar AS, lebih rendah daripada 33,54 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut laporan yang sama, Faisal menilai perkembangan perdagangan itu menegaskan risiko pelebaran defisit transaksi berjalan. Ia memperkirakan neraca perdagangan menghadapi tekanan lebih besar akibat pertumbuhan impor yang tetap kuat dan kondisi ekspor yang penuh tantangan.
Tim ekonom Permata Bank memperkirakan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate satu kali menjadi 6,00 persen sebelum akhir 2026 dan mempertahankannya sepanjang 2027. Faisal menyebut kenaikan suku bunga tambahan setidaknya 50 basis poin pada 2027 dapat dilakukan jika ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat signifikan.
Estimasi awal tim memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp18.200-Rp18.400 per dolar AS pada 2026. Mereka juga mencatat kemungkinan rupiah menembus Rp19.000 per dolar AS pada 2027 semakin meningkat, dengan risiko pelemahan yang diperkirakan berlanjut sepanjang tahun tersebut.