
Kaltara Sesuaikan Layanan MBG di Daerah Terpencil
13 menit yang lalu
Pemerintah menyebut delapan komoditas pangan telah swasembada, sementara pengamat mengingatkan masalah harga dan distribusi.
Terbit · 3 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan dikutip pada Sabtu (24/10/2026).
"Pangan kita sudah berhasil swasembada di delapan komoditas. Beras sudah penuh swasembada," kata Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan. Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026 Badan Pangan Nasional, delapan komoditas itu adalah beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Menurut laporan yang sama, produksi kedelapan komoditas itu diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional 68,22 juta ton, sehingga ada surplus agregat sekitar 4,69 juta ton. Produksi jagung diproyeksikan 18 juta ton dengan kebutuhan 16,44 juta ton, atau surplus sekitar 1,56 juta ton. Produksi gula konsumsi diperkirakan 3,04 juta ton dengan kebutuhan 2,84 juta ton, atau surplus sekitar 207 ribu ton.
Pada komoditas peternakan, produksi daging ayam ras diproyeksikan 4,90 juta ton dengan kebutuhan sekitar 4,02 juta ton, atau surplus sekitar 876 ribu ton. Produksi telur ayam ras sekitar 6,99 juta ton dengan kebutuhan 6,47 juta ton, atau surplus sekitar 516 ribu ton. Untuk hortikultura, cabai besar surplus sekitar 588 ribu ton, cabai rawit surplus sekitar 595 ribu ton, dan bawang merah surplus sekitar 63 ribu ton.
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan swasembada pangan nasional 2025 saat menghadiri panen raya di Desa Kertamukti, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026). Ia mengatakan target swasembada yang semula dipatok empat tahun terwujud dalam satu tahun. Saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026), Prabowo kembali menyinggung capaian itu. "Pangan kita terkendali, prestasi kita yang paling utama antara lain kita swasembada pangan," kata Prabowo.
Khusus beras, hingga 11 Oktober 2026 realisasi pengadaan cadangan beras pemerintah oleh Perum BULOG melalui skema PSO mencapai 4.131.492 ton setara beras. Angka itu setara 103,29 persen dari target penugasan empat juta ton, lebih tinggi dari capaian 2025 sebesar 3.191.969 ton, dan melampaui rekor 2012 sekitar 3,65 juta ton. Pada tanggal yang sama, stok cadangan beras pemerintah tercatat menembus 4,6 juta ton.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai klaim tersebut perlu disikapi hati-hati. Kepada CNBC Indonesia, Jumat (23/10/2026), ia berkata, "Klaim swasembada ini perlu dibaca secara lebih hati-hati." Menurut Eliza, persoalan ada di hilir dan rantai pasok, yakni ketersediaan yang tidak merata, harga yang berfluktuasi, dan selisih harga antardaerah. Ia menyebut harga beras medium nasional masih sekitar Rp14.600-15.000 per kilogram, dengan kenaikan di lebih dari seratus kabupaten/kota.
Mengutip situs resmi Kementerian Pertanian, Selasa (20/10/2026), kedelai, bawang putih, dan daging sapi masih membutuhkan penguatan produksi domestik. Pemerintah juga menetapkan kebutuhan impor gula bahan baku industri sebesar 3,12 juta ton pada 2026. "Tidak boleh ada rasa puas diri," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menurut kutipan dalam laporan itu.
Dalam laporan yang sama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan 437 zona musim, yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia, berpotensi mengalami kemarau lebih panjang pada 2026. Kementerian Pertanian juga mengakui stok pangan yang memadai belum otomatis menjamin harga terjangkau bila masih ada kendala distribusi, biaya logistik tinggi, dan ketimpangan pasokan antardaerah.