
Demo Gen Z di Jerman Berujung Kerusuhan
14 menit yang lalu
Singapura menyebut kargo LNG umumnya dikirim langsung ke negara tujuan, sementara Indonesia mengurangi pasokan gas pipa.
Terbit · 1 min read

Pemerintah Singapura menjelaskan bahwa kargo gas alam cair (LNG) yang diperdagangkan perusahaan berbasis di negara itu umumnya tidak dikirim secara fisik melalui Singapura. Menurut laporan CNBC Indonesia, penjelasan Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura (METI) itu disampaikan setelah Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan dugaan bahwa sebagian LNG Indonesia dijual kembali ke negara lain.
Bahlil mengatakan Indonesia telah mengirim 148 kargo LNG ke Singapura dan meyakini tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan negara tersebut. Laporan yang sama menyebut METI menjelaskan bahwa kargo biasanya diangkut langsung dari negara asal ke tujuan akhir.
Juru bicara METI menyebut Singapura sebagai salah satu pusat perdagangan internasional, termasuk untuk LNG. Lebih dari 50 perusahaan berbasis di Singapura membeli dan memperdagangkan LNG dari berbagai pasar, dengan Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia sebagai sejumlah pemasok utama.
Menurut METI kepada Channel News Asia, keputusan komersial terkait kargo berada pada para pedagang, sedangkan kargo secara fisik umumnya dikirim langsung dari negara sumber ke negara tujuan dan tidak melewati Singapura. Pernyataan itu dikutip CNBC Indonesia pada Minggu (1/11/2026).
METI juga menyatakan gas alam yang diimpor dari Indonesia melalui jaringan pipa diperuntukkan bagi kebutuhan domestik Singapura, bukan untuk diekspor kembali.
Indonesia mulai mengurangi ekspor gas alam melalui pipa ke Singapura sejak Sabtu (24/10/2026). Pemerintah mengalihkan pasokan tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Otoritas Pasar Energi Singapura menyatakan pemangkasan pasokan mencapai sekitar 17 miliar satuan termal Inggris (Btu) per hari selama 18 hari. Jumlah itu disebut setara dengan kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian Singapura.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengatakan pada Minggu (25/10/2026) bahwa seluruh pihak diharapkan tetap memenuhi komitmen dalam kontrak komersial. Bahlil menyatakan pengurangan pasokan masih berada dalam batas minimum yang diatur perjanjian dan Indonesia tidak melanggar kewajiban kontraktual ekspor gas.