
Pertamina Olah Minyak Jelantah Jadi Bioavtur
14 menit yang lalu
Rencana mencakup pembangkit gas, jaringan listrik, tenaga surya, penyimpanan energi, dan impor listrik rendah karbon.
Terbit · 1 min read

Singapura telah meluncurkan rencana lima tahun untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik dan memperkuat ketahanan sistem energi. Menurut laporan ANTARA yang mengutip EMA, rencana itu mencakup pembangkit listrik, infrastruktur gas alam, perluasan jaringan, energi surya, penyimpanan energi, dan impor listrik rendah karbon.
EMA memperkirakan lima pembangkit listrik tenaga gas alam baru mulai beroperasi pada periode 2026 hingga 2031. Pembangkit tersebut akan menambah kapasitas sekitar 26 persen dari kapasitas saat ini, yang tercatat sekitar 12 gigawatt (GW).
EMA juga mengevaluasi usulan pembangkit gas tambahan yang direncanakan beroperasi pada 2032. Saat ini, gas alam memasok sekitar 95 persen listrik Singapura.
Negara itu berencana meningkatkan kapasitas regasifikasi gas alam cair dari 10 juta ton per tahun menjadi 15 juta ton per tahun saat terminal LNG kedua di Pelabuhan Jurong dibuka pada 2030. Investasi jaringan listrik juga direncanakan mendukung pembangunan tujuh gardu induk transmisi baru pada 2031.
Jaringan kabel transmisi ditargetkan bertambah dari sekitar 7.700 kilometer menjadi 9.100 kilometer pada 2030. Singapura turut mengkaji rencana untuk meningkatkan lebih dari tiga kali lipat jaringan terowongan kabelnya, yang saat ini sepanjang 50 kilometer, guna mengakomodasi pertumbuhan permintaan jangka panjang.
Kapasitas tenaga surya ditargetkan naik dari 2,3 GWp saat ini menjadi 3 GWp pada 2030 dan 4 GWp pada 2035. Kapasitas penyimpanan energi juga ditargetkan meningkat dari sekitar 350 megawatt-jam menjadi sedikit di atas 1 gigawatt-jam pada 2030.
Singapura sedang mengkaji interkonektor listrik kedua dengan Semenanjung Malaysia yang dapat menyediakan kapasitas hingga 2 GW pada 2030. Sambungan itu akan melengkapi interkonektor berkapasitas 1 GW yang sudah ada.
Menurut laporan yang sama, permintaan listrik puncak Singapura tercatat sebesar 8,6 GW pada Agustus 2026 dan diperkirakan menjadi 9,9 hingga 13 GW pada 2031. Peningkatan itu terutama didorong industri yang membutuhkan banyak energi, termasuk manufaktur semikonduktor dan pusat data, serta perluasan elektrifikasi transportasi.