
Meutia Hatta Apresiasi Program Sekolah Rakyat
15 menit yang lalu
SPKS menyoroti pendapatan petani yang turun meski jumlah kelompok penjual kredit RSPO bertambah.
Terbit · 1 min read

Di Jakarta, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) memperingatkan petani berpotensi keluar dari sistem sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) jika pendapatan mereka terus menurun. Menurut laporan iNews.id, SPKS mengaitkan risiko itu dengan lemahnya penyerapan kredit, terbatasnya akses ke rantai pasok fisik bersertifikat, dan perdagangan kredit yang dinilai tidak transparan.
Dalam Kajian SPKS 2026, jumlah kelompok petani yang menjual kredit RSPO pada 2023–2024 meningkat 36 persen, dari 85 menjadi 116 kelompok.
Namun, volume kredit yang terjual pada periode tersebut hanya bertambah 9 persen, dari 261.792 ton menjadi 284.188 ton.
Kajian yang sama mencatat total pendapatan kelompok turun 7 persen, dari 7 juta dolar AS menjadi 6,5 juta dolar AS.
Rata-rata pendapatan tiap kelompok penjual kredit juga merosot dari 82.400 dolar AS menjadi 56.000 dolar AS.
SPKS menilai pertumbuhan jumlah petani dan luas kebun bersertifikat belum diikuti peningkatan kesejahteraan. Petani, menurut organisasi itu, harus menanggung biaya sertifikasi dan memenuhi berbagai standar tanpa kepastian manfaat ekonomi yang memadai.
Ketua Umum SPKS Sabarudin mengatakan kondisi tersebut menunjukkan persoalan mendasar dalam sistem pasar sertifikasi RSPO. Ia menilai pertumbuhan sertifikasi semestinya tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah petani dan luas kebun yang mendapat sertifikat.