
Edward Fannis Resmi Menjadi WNI
10 menit yang lalu
Inflasi tahunan Sulawesi Utara mencapai 8,07 persen; tomat dan sejumlah bahan pangan mendorong kenaikan.
Terbit · 1 min read

Kenaikan harga tomat menjadi salah satu pendorong inflasi tahunan Sulawesi Utara sebesar 8,07 persen pada Oktober 2026, menurut laporan ANTARA Manado yang mengutip Badan Pusat Statistik (BPS). Kepala BPS Sulawesi Utara, Dr. Watekhi, menyebut sejumlah bahan pangan turut mendorong inflasi.
BPS mencatat inflasi Sulawesi Utara sebesar 0,57 persen dibandingkan September 2026. Inflasi tahun kalender Januari hingga Oktober tercatat 7,96 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 8,07 persen.
Watekhi mengatakan kenaikan harga tomat, cabai merah, cabai rawit, daun bawang, dan beras mendorong inflasi pada Oktober. Menurut penjelasannya, pasokan hortikultura terbatas karena hasil panen di daerah penghasil menurun.
Cuaca panas berkepanjangan membuat tanaman layu dan mengering, sehingga produksi berkurang dan stok di pasar menipis, kata Watekhi. Ia menyebut harga tomat sempat mencapai Rp25 ribu per kilogram, naik 400 persen dari harga normal Rp5 ribu per kilogram.
Pasokan beras ke pasar juga terbatas karena hasil panen di daerah penghasil belum optimal. Watekhi mengatakan hasil panen di beberapa wilayah Bolaang Mongondow masih terbatas meski musim panen telah dimulai.
Pasokan beras dari Sulawesi Tengah belum terdistribusi merata, sehingga belum mendorong penurunan harga secara keseluruhan. Harga beras pada Oktober mencapai Rp19 ribu per kilogram.
Harga cabai rawit sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram dan, menurut laporan tersebut, masih berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Sebaliknya, harga ikan selar atau tude, malalugis atau sorihi, cakalang atau sisik, dan deho turun seiring bertambahnya pasokan dari nelayan yang kembali melaut.