
Tjandra Peringatkan Risiko Cedera Paru akibat Vape
12 menit yang lalu
IKOHI Jawa Timur menilai film Laut Bercerita dapat mengenalkan sejarah penculikan aktivis 1998 kepada generasi muda.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) Jawa Timur menilai film Laut Bercerita relevan untuk mengedukasi generasi muda tentang sejarah penculikan aktivis dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjelang Reformasi 1998. Penilaian itu disampaikan di Surabaya, Minggu (25/10/2026).
“Film ini menjadi media penting untuk mentransformasikan pengetahuan, terutama sejarah pelanggaran HAM masa lalu kepada anak-anak sekarang,” kata Ketua IKOHI Jawa Timur Dandik Katjasungkana.
Dandik menyebut film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori itu dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami penculikan dan penghilangan paksa aktivis pada 1998. Meski bergenre fiksi, ceritanya berangkat dari fakta sejarah. Menurut dia, antusiasme generasi muda terhadap novelnya menjadi perkembangan yang menggembirakan, dan versi layar lebar diharapkan menjangkau lebih banyak penonton yang tidak mengalami langsung peristiwa Reformasi 1998.
Dandik juga mengatakan IKOHI telah mendampingi Leila dalam riset novel tersebut dengan melibatkan sejumlah korban penculikan aktivis, terutama di Jakarta dan Yogyakarta. Organisasi itu turut mendukung peluncuran novel pada 2017, yang saat itu disertai pemutaran film pendek berdurasi sekitar 25 menit.
Ia menambahkan, film tersebut dapat mendorong anak muda mencari sumber informasi yang kredibel untuk memahami sejarah pelanggaran HAM di Indonesia. Pemahaman itu dinilai penting agar masyarakat tidak melupakan peristiwa masa lalu dan mampu mencegah pelanggaran serupa terulang. Dandik menilai relevansi film ini makin kuat di tengah situasi politik saat ini, karena berbagai kasus represi terhadap aktivis, penangkapan mahasiswa saat demonstrasi, serta persoalan pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan menunjukkan pentingnya pembelajaran sejarah.
“Situasi pelanggaran HAM yang berulang-ulang itu terjadi karena tidak adanya pertanggungjawaban hukum maupun politik dari para pelakunya. Tidak ada preseden hukum untuk mengadili para pelanggar HAM berat,” ujarnya.
Dandik berharap generasi muda tidak berhenti pada cerita dalam film, tetapi melanjutkan dengan mempelajari berbagai sumber sejarah dan memahami proses hukum atas kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Menurut dia, penyelesaian yang adil bagi korban menjadi bagian penting untuk mencegah keberulangan pelanggaran HAM.
Sutradara Laut Bercerita Yosep Anggi Noen mengatakan film itu mengangkat masa lalu yang hingga kini masih menyisakan persoalan. “Dalam karya kami, yang kami pilih adalah berbicara tentang masa lalu. Masa lalu yang sebenarnya masih belum memiliki kejelasan hingga sekarang, seperti kasus orang hilang, pelanggaran hak asasi manusia, dan sebagainya,” kata Yosep.
Menurut laporan yang sama, Laut Bercerita tayang perdana di Busan, Korea Selatan, pada 11 Oktober 2026 dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.