
Clayface Puncaki Pendapatan Bioskop Amerika Utara
13 menit yang lalu
Kementerian Kebudayaan menggelar Festival Musik Tradisi Indonesia 2026 di Maumere untuk melestarikan karya seniman lokal.
Terbit · 2 min read

Kementerian Kebudayaan menggelar perhelatan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 di kawasan pusat jajanan dan cinderamata Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Menurut laporan ANTARA, ajang ini diselenggarakan sebagai ruang perjumpaan antara musik tradisi, komunitas seniman, dan masyarakat luas.
Kegiatan seni yang berlangsung hingga larut malam tersebut mengusung tema Gong Ha Lin Dopo Waning Ha Hagong Nawang. Tema itu merefleksikan gaung spiritual, historis, dan kultural warga setempat, sekaligus menjadi ungkapan penghormatan terhadap alam semesta serta sang pencipta.
Menurut laporan yang sama, rangkaian program pemanfaatan Dana IndonesiaRaya ini berlangsung di sepuluh daerah di Indonesia, diawali dari Kabupaten Bogor hingga Kota Mataram. Acara ini dirancang untuk menjaga identitas budaya bangsa di tengah persaingan berbagai genre musik.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kehadiran di berbagai tempat diperlukan karena kini ada banyak persaingan dengan berbagai genre musik di Indonesia dan dunia. Menurut dia, merajut bayang-bayang berarti juga mempertemukannya dan menenunnya menjadi satu kain yang dapat dilihat dan dirawat bersama.
Pentas di Maumere dibuka oleh grup musik Neotra atau New Tradisi yang mengolaborasikan musik modern dengan musik etnis Maumere. Grup yang digawangi Emildus Baberlin itu menghadirkan sentuhan sasando, letor, gong, dan suling melalui sejumlah lagu daerah, termasuk "Ana Rintin Teong" serta "Welcome to Nian Tana".
Pertunjukan berlanjut dengan atraksi tari dan ritme musik tradisi dari Sanggar Budaya Nilo Watu Buan yang membawakan materi Sako Seng, seremonial panen Leke, dan tanda bahaya Krowe. "Leke yang kita sajikan tadi adalah pesta panen, jadi masih dengan rangkaian mulai dari bercocok tanam sampai panen," ujar Ketua Sanggar Budaya Nilo Watu Buan Emiliano Samson.
Secara keseluruhan, panggung festival diramaikan oleh tujuh penampil, antara lain Sanggar Budaya Begu Mbetu, Sanggar Seni Uwun Kloda, grup musik Leisplang, Soledan, dan Sanggar Budaya Doka Tawa Tana. Samson berharap perhelatan kebudayaan semacam ini dapat digelar berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya demi memacu kreativitas seniman daerah.
Seorang warga yang hadir, Sisco, mengatakan festival menjadi ruang pertemuan yang memperkuat relasi para seniman Maumere karena sanggar-sanggar berada di daerah yang berjauhan. Kendati pentas utama dijadwalkan berakhir pada pukul 23.00 WITA, kebersamaan warga dan para seniman terus berlanjut melalui permainan instrumen musik tradisional secara spontan.