
Majoris, Muamalat, Trimegah Kerja Sama Investasi Syariah
9 menit yang lalu
Film Garin berkompetisi di TIFF 2026, melanjutkan perjalanan panjangnya di festival tersebut.
Terbit · 2 min read

Sutradara Garin Nugroho menangis setelah penayangan perdana film Merah Sebelum Fajar di Hulic Hall, Tokyo, pada 27 Oktober 2026. Menurut laporan ANTARA, penayangan itu menjadi bagian dari Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) ke-39.
Garin mengatakan kepada ANTARA di Tokyo bahwa air matanya berkaitan dengan rasa getir, marah, dan geram yang telah lama dipendam saat menyaksikan kekerasan di Indonesia dan berbagai tempat lain. “Aku nggak pernah nangis di panggung,” kata Garin setelah filmnya diputar.
Merah Sebelum Fajar menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam kompetisi utama TIFF 2026. Menurut laporan yang sama, festival itu menerima 1.892 film dari 112 negara dan wilayah, dengan 15 film terpilih untuk berkompetisi.
Film-film tersebut memperebutkan sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan utama Tokyo, penghargaan juri khusus, sutradara terbaik, aktris terbaik, aktor terbaik, dan kontribusi artistik terbaik. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan kepada ANTARA bahwa ia mengapresiasi pencapaian sineas Indonesia yang lolos seleksi dan berkompetisi di festival tersebut.
Keikutsertaan ini menambah perjalanan panjang Garin di festival film Asia tersebut. Pada 1994, ia meraih Gold Prize di Tokyo lewat Surat untuk Bidadari, sedangkan Daun di Atas Bantal memperoleh Special Jury Prize pada 1998.
Film ini berlatar Indonesia pada 1946, setahun setelah proklamasi kemerdekaan. Nicholas Saputra, pemeran utama yang juga menjadi produser, menyampaikan gagasan film kepada Garin pada November 2025; keduanya bekerja sama dalam film musikal Siapa Dia.
Garin menulis skenario bersama Dirmawan Hatta. Proses syuting berlangsung selama 15 hari di Yogyakarta dan Solo, sementara rentang dari munculnya gagasan hingga film siap ditonton mencapai 11 bulan, menurut laporan ANTARA.
Cerita mengikuti Frans, yang diperankan Nicholas Saputra, dalam perjalanan menggunakan truk untuk membawa dokumen penting. Ia ditemani empat karakter berlatar berbeda: ahli tambang, perawat, penyanyi, dan teknisi radio tunanetra. Garin menyebut film tersebut menggambarkan kisah kompleks tentang revolusi sosial melalui karakter-karakternya.
Garin mengatakan merah merupakan penanda keberanian dan semangat, tetapi juga darah. Ia menggambarkan fajar sebagai sesuatu yang berada di antara harapan, gelap, dan terang, sehingga terdapat banyak paradoks dalam judul Merah Sebelum Fajar.