
Menhub dan Menaker Bahas Angkutan Nataru
16 menit yang lalu
Paparan keluhan dan pesimisme berulang dapat melelahkan; psikolog menyarankan batasan dan percakapan seimbang.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, psikolog klinis Patricia Dixon mengatakan terlalu sering berada di sekitar orang yang terus mengeluh dapat menguras energi emosional. Interaksi dengan orang yang berpikiran negatif juga dapat memengaruhi suasana hati.
Dixon menyebut suasana hati seseorang dapat ikut terpengaruh jika ia terus-menerus berada di sekitar orang yang tidak bahagia. Laporan ANTARA mengutip pernyataan itu dari laman Real Simple.
Psikolog klinis dan neuropsikolog forensik Judy Ho mengatakan seseorang terkadang merasa bertanggung jawab menjaga suasana hati orang lain tetap positif. Menurut laporan yang sama, upaya itu dapat melelahkan ketika dukungan yang diberikan terus dibalas dengan alasan bahwa sesuatu tidak akan berhasil.
Psikolog klinis Karen Vincent menyarankan agar perilaku pesimistis dibicarakan dengan cara yang baik. Langkah tersebut dapat membantu orang yang bersangkutan menyadari kebiasaannya dan mempertimbangkan perubahan.
Menetapkan batasan juga dapat dilakukan dengan membatasi waktu untuk mendengarkan keluhan atau menentukan topik yang tidak ingin terus dibicarakan. Laporan yang sama menyarankan agar seseorang meluangkan waktu bersama orang-orang yang memberi dukungan.
Ho menyarankan percakapan diarahkan pada sudut pandang yang lebih seimbang. Pertanyaan yang membuka kemungkinan penjelasan lain dapat membantu lawan bicara mempertimbangkan perspektif berbeda, tanpa menuntutnya untuk selalu berpikir positif.
Vincent juga menyarankan agar seseorang mengajak lawan bicara menyebutkan satu hal positif untuk setiap hal yang dikeluhkan. Saran tersebut disampaikan sebagai salah satu cara menghadapi percakapan yang dipenuhi keluhan.
Ho mengingatkan bahwa seseorang tidak dapat memaksa orang lain menjadi optimistis. Perubahan hanya dapat terjadi jika orang tersebut bersedia melakukannya.