
Trimurti Shrine, Kuil Pencari Jodoh di Bangkok
14 menit yang lalu
Surono menilai diversifikasi dapat menekan ketergantungan impor dan mendukung ketahanan energi.
Terbit · 1 min read

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Surono mengatakan diversifikasi sumber energi penting untuk mencapai ketahanan energi. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan hal itu dalam Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung.
Kegiatan tersebut berlangsung di Bandarlampung pada Jumat (6/11/2026).
Surono mengatakan diversifikasi dapat mengurangi risiko ketergantungan pada sumber tertentu dan dampak volatilitas harga energi global. Langkah itu juga dinilai mendukung pemanfaatan sumber energi domestik serta meningkatkan keandalan sistem energi.
Ia menyebut target bauran energi baru dan terbarukan pada 2060 berada pada kisaran 70–72 persen. Target tersebut, menurut Surono, mempertimbangkan pemanfaatan berbagai potensi energi, termasuk surya, hidro, bioenergi, panas bumi, nuklir, serta energi laut.
Dalam pemaparannya, Surono menyebut porsi batu bara dalam bauran energi diproyeksikan turun dari sekitar 40,7 persen pada 2030 menjadi 28,9 persen pada 2040. Porsinya diperkirakan kembali turun menjadi 19,1 persen pada 2050 dan 7,8 persen pada 2060.
Ia juga menyampaikan bahwa pada 2025, impor memenuhi 38,7 persen kebutuhan minyak mentah kilang domestik dan 34,2 persen kebutuhan BBM domestik. Untuk LPG, porsi kebutuhan domestik yang dipenuhi dari impor mencapai 80,6 persen.
Surono mengatakan diversifikasi sumber dan jalur impor energi diperlukan agar Indonesia tidak bergantung pada sumber tertentu. Ia menyebut langkah itu sebagai satu dari empat prioritas untuk mengurangi ketergantungan impor.
Tiga langkah prioritas lainnya, menurut Surono, ialah memperkuat stok operasional LPG dan BBM, mengoptimalkan produksi minyak mentah domestik, serta mempercepat pembangunan dan pengoperasian cadangan penyangga energi. Materi sumber tidak merinci jadwal pelaksanaan langkah-langkah tersebut.